Cara Membuat Anak Mau Berbagi

“Gak mau satu, mau semuanya aja !”. Inilah kondisi anak-anak kita terutama usia pra sekolah. Mereka belum bisa berbagi dengan teman-teman, adik bahkan orang tuanya sendiri. Perilakunya malah terkesan egois, bahwa segala sesuatu yang diberikan kepadanya harus lebih banyak dari yang lain, kalau perlu mendapatkan semuanya. Dia akan merasa bangga karena melebihi yang lain, misalnya, “Ayo lihat nih, aku punya tiga pensil warna. Kamu cuma dapat satu!” Jadi, ada keinginan dalam dirinya untuk mendapatkan sesuatu dalam jumlah yang banyak.

Menurut Sani B. Hermawan, Psi., dalam diri anak usia prasekolah ini, berkembang konsep pemahaman bahwa ingin memiliki sesuatu dalam jumlah banyak. Dengan kata lain, dia masih cenderung mengutamakan kuantitas ketimbang kualitas. Maka bila mendapatkan jumlah yang lebih banyak, dia pun merasa ada kepuasan. “Di sisi lain, pada dasarnya dalam diri anak ada kebutuhan untuk memuaskan diri dengan cara memiliki atau mendapatkan benda atau apa pun sebanyak-banyaknya,” kata Direktur Lembaga Pelatihan Daya Insani, Jakarta ini. Perilaku si prasekolah selain sulit berbagi, juga mau menang sendiri, egois dan sederet label negatif lainya. Sifat individualnya masih sangat dominan sehingga apa pun yang dilakukannya masih terpusat pada dirinya sendiri.

Dalam hal ini, ada beberapa kondisi pengasuhan yang memperberat antara lain orangtua yang memberi sesuatu selalu banyak atau berlebihan demi membuat anak merasa puas, entah itu makanan, mainan atau hal lainnya. Dengan begitu, anak akan memersepsikan bahwa sesuatu yang banyak itu memang menyenangkan.

Beberapa langkah untuk membuat anak mau berbagi

Perilaku berbagi adalah perilaku baik yang perlu diajarkan sejak dini kepada anak. Jika tidak, maka akan mengganggu proses sosialisasinya. Bisa saja kemudian ia dijauhi temannya atau menjadi bulan-bulanan di antara teman-teman. Ketika dewasa pun anak yang tidak terbiasa berbagi akan sulit untuk bersosialisasi di pekerjaan karena kurang empati terhadap sekitarnya. Oleh karena itu perlu sekali menerapkan teknik PARENTING Miracles at home untuk mengajarkan anak berbagai :

             P = Pengasuhan anak yang benar

Menggunakan teknik pengasuhan konvensional yang cenderung memanjakan, memberikan semua yang diinginkan anak, memberikan sesuatu secara berlebihan, memarahi anak yang belum mau berbagi, memberikan label serakah, adalah beberapa contoh teknik konvensional yang menghambat melatih anak mau berbagi. Kita harus menggunakan teknik pengasuhan yang benar sesuai langkah-langkah di bawah ini

R = Redam amarah

Redam amarah kepada anak adalah pintu masuk pertama anak mudah untuk diarahkan. Jika kita mengarahkan anak dengan memarahi, yang ada adalah anak merasa disakiti, dibenci, tidak disayangi, dan yang paling menyulitkan adalah justru melawan semua arahan kita. Perilaku berbagi adalah perilaku penuh kasih sayang sehingga menanamkannya pun harus dengan kasih sayang.

Pemberian pemahaman dengan kombinasi langkah E (Empati mendengarkan), N (Notifikasi pembicaraan dan tindakan), dan T (tanamkan energy positif.

Ketika kita akan memberikan pemahaman kepada anak, kita biasakan melakukan langkah E terlebih dahulu. Kita bertanya tentang hal apapun baik yang berkaitan maupun yang tidak. Kita dengarkan dengan seksama sehingga anak merasa nyaman dan berbahagia. Dalam kondisi ini, rasa senang akan membuat anak lebih siap untuk menerima penjelasan kita pada langkah N. Langkah ini bisa pendek jika dalam kondisi mempraktekkan, bisa panjang jika dalam kondisi memahamkan dalam bentuk mengobrol.

Dalam langkah N, yang perlu disampaikan adalah hubungan sebab akibat, dan manfaat. Berikut beberapa contoh pemilihan kata-katanya :

“Kalau kakak tidak dibagi kue sama teman, pasti sedih, kan? Nah adek juga kalau lihat kakak punya kue tapi gak dibagi pasti sedih sekali.”

“Kalau kakak punya bekal trus dibagi ke teman, nanti teman juga bisa membagi bekalnya ke kakak. Pasti senang bisa saling berbagi bekal”

Dalam langkah ini juga perlu diperhatikan agar tindakan kita mendukung, antara lain :

1.       Kita memprogram untuk sesering mungkin memperlihatkan indahnya berbagi di depan anak-anak kita. Misalnya ketika kita memiliki makanan, kita sengaja membagi sebagian makanan untuk tetangga dan anak kita ajak dalam proses penyiapan dan pengantarannya.

2.       Ketika ada tetangga atau teman yang membagi makanan kepada kita, kita sampaikan syukur dan rasa senang kita di depan anak kita, dan sampaikan : “Alhamdulillah, senangnya dibagi makanan sama teman ya, Kak! Terima kasih ya, bu!”

3.       Ketika anak masih belum terbiasa berbagi, tapi kita sudah menyampaikan materi ini, silakan mencoba untuk praktek berbagi. Sebelum praktek, siapkan bahannya misalnya mainan atau kue. Sebelumnya berikanlah dulu bimbingan “Kak, bunda punya kue. Kakak mau? Nah, temen kakak kalau lihat kue ini pasti mau juga. Kakak bagi kuenya sama dia ya, Anak sholeh!”

Jika anak mengiyakan, berikan kuenya dan bimbing si anak untuk berbagi. Jika tidak mengiyakan, siapkan satu konsekuensi agar anak terbantu mengikuti arahan kita, contoh : “Kalau kakak tidak mau berbagi, berarti kuenya bunda simpan dulu ya. Nanti maghrib kalau temen kakak sudah pulang baru boleh kakak makan”

Nanti si anak akan berpikir dua hal, satu akhirnya mau berbagi, yang kedua dia memilih memakan semuanya sendiri di waktu maghrib. Supaya anak terdorong untuk memilih yang pertama, tempatkan makanan tersebut di tempat yang mudah terlihat sehingga anak terdorong untuk ingin memakannya saat itu dan mau berbagi dengan temannya.

Program lain yang bisa melatih anak berbagi yaitu sengaja membeli bekal makan siang lebih, dan pesankan kepada anak untuk membaginya kepada teman-temannya.

Silakan lakukan berkali-kali langkah E dan N ini sambil dalam setiap prakteknya, selalu sisipkan pujian “Anak sholeh”, “Anak yang suka berbagi’, “Anak baik”, dan predikat lain. Hindari memberikan predikat negative “Anak serakah”, “Anak jahat”, “Anak nakal”, dll.

Usahakan pujian tersebut tidak hanya dari bunda dan ayah saja, tapi dari nenek, guru dan teman ayah bunda, sehingga anak benar-benar yakin bahwa dia memang anak yang sholeh, baik, dan suka berbagi.

I  = Istiqamah

Agar program ini berhasil, kunci selanjutnya yaitu I (Istiqomah). Jika kita istiqomah ketika pada awal menerapkan berbagi ini anak dikurangi mainannya, dibagi kuenya, sehingga anak marah, mengamuk atau menangis, maka kita harus tetap konsisten dengan kata-kata bimbingan yang sudah kita ucapkan. Berikan dukungan sehingga anak bisa belajar mengatasi egonya dan dengan penuh kasih sayang. Kasih sayang akan melembutkan hati anak kita sehingga dia akan lebih mau mengikuti arahan kita.

      NG = me NGadakan time out

Langkah ini hanya dipakai jika anak mengamuk. Dalam menanamkan perilaku baik, langkah time out ini tidak dipakai.Tapi jika anak mengamuk karena keinginan tidak dipenuhi, kita mentime out karena anak mengamuk, bukan karena tidak mau berbagi. Teknik time out bisa dilihat dalam artikel “Indahnya Time Out untuk Menghentikan Perilaku Buruk Anak”

Menanamkan perilaku baik, salah satunya berbagi memerlukan waktu. Tidak hanya dalam hitungan hari, tapi bertahun-tahun. Jadi, setelah kita melakukan langkah-langkah di atas tapi si anak sulit sekali berubah maka mari kita mengingat kembali prinsip-prinsip penerapan PARENTING dalam buku Miracles At Home/Anak STNK :

–       Prinsip 1 : Target bukanlah hanya hasil, tapi proses juga berpengaruh

Proses yang baik yang kita lakukan akan diingat dalam memori anak-anak kita. Kesabaran, kelembutan, keteguhan kita dalam menerapkan kebenaran akan mereka ingat selalu sampai mereka dewasa.

–       Prinsip 2 : Jika kita tidak berhasil juga memberikan pemahaman kepada anak kita, dan bingung apa lagi yang harus dilakukan, itu artinya kita harus belajar.

–       Prinsip 3 : Jika kita pemarah, sehingga perubahan itu sulit sekali kita lakukan, tak perlu minder. Mengendalikan marah adalah keterampilan yang harus dilatih. Jika ayah bunda belum belajar mengendalikan marah dari kecil, sekarang banyak buku, terapi, dan pelatihan yang bisa membantu untuk bisa mengendalikan marah.

–       Prinsip 4 : Jika semua langkah di atas sudah kita lakukan tapi anak masih sulit berubah, yakinlah bahwa hati anak kita cenderung pada kebaikan. Mendoakannya dan mengikhlaskannya kepada Allah adalah jalan yang terbaik.

Semoga anak-anak kita menjadi anak yang bisa berbagi, dan itu membutuhkan bimbingan dari kita sebagai orang tua dengan penuh kesabaran.

Posted on Oktober 20, 2012, in Parenting and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: