Mobil Terlaris

Pada mulanya mobil adalah hasil tangan-tangan terampil para “pandai besi”. Sekarang Panhard ct Levassor, misalnya, adalah nama yang barangkali hanya populer bagi pecinta mobil klasik. Tapi dulu, di akhir Abad ke-19 itu, ia sangat dikenal sebagai pembuat mobil di seantero Eropa. Pembelinya adalah para pemesan, seperti Evelyn H. Ellis, seorang anggota parlemen Inggris, yang sengaja pergi jauh dari London ke Paris, memesan mobil yang cocok dengan seleranya. Meskipun ini cerita klasik, tradisi memproduksi mobil sebagai craftsmanship, masih kita lihat jejaknya pada mobil-mobil Eropa. Berselera tinggi, diproduksi dengan tidak terlalu massal, menjadi mobil mewah.

Lalu datanglah Henry Ford yang kemudian mengubah cara produksi mobil itu secara massal. Mobil, dan cara pembuatannya, tidak lagi memerlukan kaidah dan keterampilan seorang pengrajin. Dengan bantuan ban berjalan, buruh-buruh tak terampil, dengan spesialisasi kerja, cukup untuk menjalankan produksi. Tugas para insinyur sebatas menyiapkan rancang bangun. Maka, selepas PD I, mobil Amerika-lah yang menguasai dunia, menggantikan mobil-mobil Eropa.

Sampai kemudian, kita tahun muncul Eiji Toyoda, pendiri Toyota, yang memodifikasi produksi massal ala Ford, secara lebih “manusiawi”. Mobil Jepang adalah hasil kerja tim, kombinasi craftmanship ala Eropa dan produksi massal ala Amerika. Tentu dengan berbagai inovasi di sana sini. Dan hasilnya? Saat ini mobil Jepang lah yang menguasai pasaran di seluruh dunia. Akhir-akhir ini diam-diam mobil Korea sedang mencari pasaran dimana-mana. Akankah ia berhasil? Saya kurang tahu. Sebab, dulu pun ada mobil Australia, merknya Holden, diam-diam hilang dari pasaran kita. Padahal di negaranya sana tentu saja menjadi mobil nasional. Karena alasan yang berbeda-beda banyak negara rupanya memang ingin memiliki mobil nasional.

Malaysia sudah mulai bangga dengan mobil nasionalnya, kalau tidak keliru, dengan merk Rusa. Tetapi di manakah sebenarnya perbedaan mobil-mobil Jepang, Amerika, Eropa, Korea, Australia, Malaysia — atau mungkin nanti — Indonesia itu? Mobil, apa pun merk dan jenisnya, dibuat dengan ala negara mana pun, pada prinsipnya belum banyak berubah. Asesorisnya memang sangat beraneka ragam. Tapi, secara teknis fungsional, semakin mendekati standar. Melihat perkembangan industri mobil secara global, seorang ekonom, bahkan mengatakan: akhirnya hanya soal namalah yang akan membedakan satu dari yang lainnya. Dan mobil nasional itu? Barangkali sekadar kebanggaan belaka. Sebab teknologi, dan dibalik itu, adalah modal, tidak lagi mengenal batas geografis. Khususnya justru dengan sangat valid kita lihat pada industri otomotifnya ini.

Di pasar mereka tampak seperti bersaing keras, tapi kemungkinan besar yang terjadi sesungguhnya adalah sebaliknya. Maka, ketika pada tahun 1980-an, Amerika merasa terancam oleh Jepang — dan menjalankan kebijakan protektif — karena kebanjiran mobil negeri matahari ini menjadi semacam nasionalisme yang aneh. Sedangkan antara Ford atau General Motor (GM) dan Toyota atau Honda boleh jadi tengah saling berbagi keuntungan. Sebenarnya tak begitu banyak produsen mobil terkemuka di dunia sekarang ini. Sekitar 80 persen mobil di dunia ini, yang pada tahun 1990 mencapai 48,3 juta unit itu, dipasok hanya oleh 12 perusahaan. Dan fakta berikut ini yang mungkin lebih menarik diperhatikan; keduabelas perusahaan itu saling kait-mengait, saling memiliki, dan bekerja sama. John R. Munkirs, seorang ekonom lain yang juga pemerhati industri mobil, menunjukkan hal ini. Keterkaitan itu berlangsung setidaknya dalam empat bentuk: pemilikan saham, fasilitas bersama, saling tukar dan pasok onderdil serta produk, dan dalam kegiatan litbang. Bentuk keterkaitan itu akan merepotkan kita dalam membacanya kalau harus dijejerkan di sini. Misalnya saja, sekadar sebagai contoh, GM memiliki saham masing-masing 100%, 80%, 70%, dan 37,5%, di Vauxhall (Inggris), Opel (Jerman), FSO (Polandia), dan Isuzu Motor (Jepang). Sedang Daewo Motor adalah milik Ford dan Daewo Group dengan saham 50:50. Ford juga memiliki 25% saham Mazda, 75% Aston Martin dan 50,96% AC Cars Holdings Ltd (Inggris). Sementara itu, di antara saham Kia Motor, 10% dan 8%, di antaranya adalah milik Ford dan Mazda. Toyota memiliki saham Daihatsu (14,66%), Nissan memiliki saham Subaru (4,5%), Chrysler memiliki saham Mitsubishi (10,99%), dan Mitsubishi punya saham Hyundai (15%). Contoh terakhir: Volvo memiliki saham Renault (20%) dan sebaliknya Ranault
memiliki saham Volvo (10%).

Sesama industri itu juga saling bertukar produk. Isuzu, misalnya, merakit mobil Opel dan Vauxhall di Eropa dan Geo Storm di Jepang. GM merakit Isuzu di New Zealand dan beberapa negara Amerika Latin, Daewo merakit Opel, Pontiac Leman, dan Optima. Bertone merakit mobil Daihatsu di Itali, Saab merakit Opel di Swedia. Dan seterusnya: intinya mereka saling memiliki saham dan saling merakit produksinya. Fasilitas produksi juga saling dibagi rata oleh industri ini. Pabrik mobil NUMMI di Fermont, California, dan UAAI di Australia, dimiliki oleh Ford dan Toyota (50:50). DiKanada, GM dan Suzuki, memiliki secara bersama Cami Automotive Inc. Ford dan Suzuki punya pabrik di Taiwan. Ford dan VW memiliki Autolatina yang memproduksi mobil di Brazil dan Argentina. BMW, Fiat, Mazda, Nissan, dan Maruti (India) juga memiliki fasilitas bersama dengan Ford. Bagaimana dengan onderdil? GM memasok onderdil tertentu untuk Renault, Saab, Honda, Toyota, Rover, dan VAZ (Rusia). Sebaliknya, GM menerima onderdil lainnya dan Isuzu, VW, Fiat, Honda, dan Pininfarina (Itali), untuk onderdil yang lainnya. Sedangkan Ford memasok mesin untuk Mazda, transmisi untuk Fiat, blok mesin untuk Nissan, dan De Tomato Modena (Itali). Sebaliknya Ford menerima pasok onderdil dari Mazda, VW, dan Toyota. Nissan membeli blok mesinnya dari Daewo. Bentuk kerja sama lain, tanpa perlu saya beri contoh lagi, adalah di dalam penelitian dan pengembangan. Maka yang ada di muka bumi ini agaknya hanyalah mobil global

Posted on Oktober 11, 2012, in Automotive and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: